Selasa, 19 Maret 2013

Catatan Tawafnya Pak Dahlan Iskan.By Hasnan Habib

Ibadah memutari Ka’bah tujuh kali (tawaf) dengan kendaraan listrik sudah jadi kenyataan. Tidak lagi harus jalan kaki, digendong, atau ditandu. Inilah oleh-oleh perjalanan umrah akhir Ramadan saya tahun ini bersama istri, anak, menantu, dan cucu.
Hari itu, 14 Agustus 2012 saya berada di lantai empat Masjid Al Haram. Pada jam delapan pagi matahari musim panas sudah terasa menyengat di lantai yang menghadap ke langit itu. Sejak subuh saya memang berada di situ. Menyelesaikan bacaan tiga juz terakhir Al Quran yang 30 juz itu.
Legisan Sugimin, manajer ESQ yang menyertai umrah saya, lantas membacakan doa khataman. Dengan perasaan lega, kami pun segera turun dengan eskalator yang di dekat Zam Zam. Begitu banyak eskalator di dalam masjid ini sehingga kalau salah pilih bisa kesasar jauh.
Dari eskalator inilah saya melihat di pelataran kecil di lantai tiga banyak orang seperti latihan naik kendaraan listrik. Mundur-maju-memutar. Bentuknya mirip kursi roda bermotor. Saya tertarik berhenti untuk melihatnya. Ternyata itulah kendaraan listrik untuk tawaf bagi orang yang tidak kuat berdesakan jalan kaki mengelilingi Ka’bah.
Kendaraan model baru ini rupanya laris. Saya hitung ada tujuh orang yang sedang antre di loket. Ada yang sudah bisa langsung mengendarainya, ada yang masih harus latihan.
Ini tentunya satu kemajuan. Dulu, orang tua atau orang yang tidak mampu tawaf, harus menyewa orang untuk menggendongnya. Atau memikulnya. Pemandangan seperti itu tidak terlihat lagi sejak lebih lima tahun lalu. Mereka dibikinkan jalur khusus, seperti sosoran, menjorok dari lantai dua. Di jalur khusus itu mereka dinaikkan kursi roda yang didorong oleh keluarga atau petugas yang dibayar.
Dan sekarang kendaraan listrik menggantikannya.
Kalau tidak terkait dengan fikih (hukum acara ibadah) sebenarnya membahas ini tidak menarik. Tapi fikih kendaraan listrik rupanya harus diterima di zaman modern ini. Termasuk penentuan lokasi memutar yang sudah agak di atas Ka’bah. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu, pernah tawaf di lantai empat yang menghadap langit itu. Tentu posisinya juga sudah sangat tinggi. Dari lantai ini Ka’bah terlihat agak di bawah sana. Meski terhindar dari berdesakan, tawaf di lantai empat ini ternyata justru sangat lama. Satu putaran ternyata hampir 1 km.
Tekanan kian banyaknya jemaah haji (dan umrah) rupanya membuat fasilitas yang ada harus selalu dilipatgandakan. Tempat lempar batu (jumrah) dibikin bersusun. Tempat lari dari bukit Sofa ke bukit Marwa (sya’i) juga dibuat bersusun. Yang di lantai empat sebenarnya sudah tidak bisa merasakan jerih payah Siti Hajar saat mencarikan air bagi bayi Ismail dengan cara lari bolak-balik menaiki dua bukit itu.
Tahun depan ada lagi yang dibuat bersusun: pelataran tawaf! Kelak memutari Ka’bah bisa dilakukan di lantai baru. Saya sudah melihat video perencanaannya. Hebat dan indah. Hebatnya pelataran tawaf susun ini dibuat knock down. Bisa dibongkar pasang dengan cepat. Mungkin hanya akan dipasang waktu musim haji atau umrah akhir Ramadan saja.
Untuk memasangnya hanya diperlukan waktu tiga hari. Tanpa mengganggu ibadah di sekitar Ka’bah. Tenaga bongkar pasangnya tidak banyak. Sudah lebih banyak menggunakan robot.
Tanpa usaha baru seperti itu lautan manusia yang bertawaf akan tidak tertampung. Pada musim haji atau umrah akhir Ramadan, luapan manusia memang luar biasa. Pada hari ke-27 bulan puasa (dipercaya sebagai hari turunnya lailatul qadar, siapa beribadah di hari itu mendapat pahala sebanyak ibadah selama seribu bulan) orang tarawih meluber ke mana-mana. Jalan-jalan raya terpakai untuk tarawih sampai sejauh 2 km dari masjid.
Masjid yang sudah dibuat empat tingkat, yang halamannya terus diperluas, yang hotel-hotel di sekitarnya sudah menyisihkan lantainya untuk salat, masih juga belum cukup. Semua jalan menuju masjid menjadi masjid itu sendiri.
Saya lihat Masjid Al Haram kini juga sedang diperluas (lagi). Ada tambahan dua menara baru. Tapi kalau ekonomi negara-negara seperi Indonesia, India, dan Afrika terus berkembang, semua perluasan itu tidak akan cukup juga.
Kelak tidak ada jalan lain kecuali membatasi jumlah orang umrah seperti membatasi orang berhaji sekarang ini. Belum lagi ekonomi negara-negara seperti Uzbekistan, Kazakstan, Turki, dan Tiongkok juga kian maju. Jangan lupa jumlah umat Islam Tiongkok lima kali lipat lebih banyak dari umat Islam se-Malaysia.

Senin, 25 Februari 2013

Menuju Beras Sehat dari Padi Tawaf, Kong Tahib dan Saripudin, Petani Padi Tawaf di Cilangkap Tapos Depok

Menjemur gabah padi tawaf, sebuah upaya menuju pangan yang sehat serta mempunyai nilai tambah berkah, sebab produksinya mengacu pada tatacara Islami yaitu metode menanam padi pola Tawaf, sebuah gerak alamiah sunatullah , diproyeksikan bukan untuk menyaingi sistem yang ada karena bisa dipadu - serasikan dengan model Legowo atau SRI.

Selasa, 19 Februari 2013

Utang Pemerintah RI per Januari 2013 melambung sebesar 1,979,75 Triliun

Mau membayar utang negara kita Mbah ?
JAKARTA - Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang pemerintah per 31 Januari mengalami peningkatan. Kenaikan utang Indonesia naik menjadi Rp4,33 triliun. Dalam data yang diterbitkan DJPU, Selasa (19/2/2013), utang pemerintah naik ke Rp1.979,75 triliun pada Januari 2013, dari Rp1.975,42 triliun pada akhir 2012. Dalam lima tahun belakangan, utang pemerintah telah meningkat Rp343,01 triliun.Total utang pemerintah tersebut, berasal dari pinjaman sebesar Rp605,59 triliun. Pinjaman ini mengalami penurunan Rp10,56 triliun dari posisi tahun lalu sebesar Rp614,32 triliun.Adapun rincian dari pinjaman tersebut yakni, pinjaman luar negeri sebesar Rp603,76 triliun, dengan pinjaman bilateral Rp348,93 triliun, pinjaman multilateral Rp229,68 triliun, komersial Rp24,77 triliun. Sementara untuk pinjaman luar negeri sebesar Rp1,82 triliun, naik dari posisi tahun lalu sebesar Rp1,80 triliun.Sementara utang terbesar diperoleh dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp1.374,16 triliun naik Rp13,06 triliun dari posisi tahun lalu sebesar Rp1.361,10 triliun. Dengan denominasi valas sebesar Rp264,82 triliun dan denominasi rupiah Rp1.109,34 triliun.

Harga Beras Di Depok Mahal

DEPOK - Harga beras di sejumlah pasar tradisional dan pedagang eceran di Depok naik signifikan. Salah satunya di Pasar Depok Jaya harga beras bahkan ada yang mencapai Rp12 ribu per liter.

Hal itu pun dikeluhkan oleh salah satu konsumen, Rahayu warga Cipayung, Depok. Biasanya, ia membeli beras kualitas sedang dengan harga Rp7.000, namun kini tak ditemukan lagi di pedagang.

"Saya biasa beli beras Rp7 ribu, tapi ini enggak ada lagi, mahal-mahal, ada yang Rp12 ribu malah, paling murah Rp8.500 per liter," tuturnya kepada Okezone, Minggu (13/1/2013).

Para pedagang mengaku kenaikan harga dipengaruhi musim hujan dimana banyak sawah petani terendam banjir. "Saya mau cari yang Rp7 ribu tapi warnanya kuning, akhirnya saya beli di pedagang eceran di luar ada yang Rp7.500 tapi kualitasnya enggak begiti bagus," jelas Rahayu.

Sementara itu  Kepala TU Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok Bambang Pamungkas mengatakan harga beras dan turunannya (nasi matang) mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap inflasi di Kota Depok. Ia menambahkan, biasanya beras selalu mengalami kenaikan harga saat awal tahun dan mendekati Lebaran.

Menurutnya, kebutuhan Beras di Depok sekira 97 persen di datangkan dari berbagai daerah. "Salah satu penyebab kenaikan harga di antaranya faktor cuaca atau curah hujan cukup tinggi dan berujung pada gagalnya panen padi," tandas Bambang

Impor Beras Itu Menyakitkan Hati Petani

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati yang mampu mendukung pemenuhan kebutuhan pangan. Namun, keanekaragaman tersebut banyak yang tak termanfaatkan sehingga dalam soal pangan Indonesia justru tampak menyedihkan. Indonesia memiliki 77 jenis sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 75 jenis sumber lemak, dan 273 jenis sayuran.Namun, dengan sumber pangan melimpah, Indonesia masih harus mengimpor bahan pangan. Sepanjang 2012, impor beras sudah mencapai 1,95 juta ton, jagung sebanyak 2 juta ton, kedelai sebanyak 1,9 juta ton, daging sapi setara 900.000 ekor sapi, gula sebanyak 3,06 juta ton, dan teh sebesar 11 juta dollar.Sudah saatnya pemerintah menekankan perlunya kebijakan pangan cerdas dan berkeadilan. Masyarakat perlu diajak lagi untuk mengenal pangan lokalnya, seperti jenis umbi-umbian yang belakangan justru terbukti manfaatnya bagi kesehatan. Dalam soal antisipasi pada dampak perubahan iklim, Indonesia tidak hanya bisa bergantung pada produk asing, seperti benih impor. Indonesia perlu mengembangkan sumber daya alam yang dimiliki. Indonesia perlu memanfaatkan keanekaragaman hayati yang dimiliki untuk mendukung kebutuhan pangan. Sementara  langkah yang dilakukan Indonesia saat ini justru sebaliknya. Pangan diseragamkan dan lahan tempat tumbuhnya bahan pangan dibabat. "Di antaranya diubah menjadi deretan perkebunan sawit yang 80 persen untuk ekspor." Konsekuensi yang muncul dari langkah itu, masyarakat kesulitan mengakses bahan pangan secara mandiri. Pangan harus dibeli, bahkan dari wilayah yang jauh dari tempat tinggal.

Pengelolaan keanekaragaman hayati laut pun diperlukan. Saat ini, msumber protein laut banyak yang tak bisa dinikmati oleh rakyat. Sebagian sumber daya justru dicuri. Indonesia saat ini masih menjadi cerminan negara berkembang dengan permasalahan pangannya. Data mengungkap, 870 juta orang menderita kelaparan atau kurang gizi. Sebanyak 97,9 persen dari orang yang kelaparan hidup di negara berkembang dan 80 persen orang yang kelaparan justru terlibat langsung pada proses penyediaan pangan. 

Dari awal pemerintah memang tidak pernah berpihak kepada para pe­tani. Di saat produksi padi me­ningkat, pemerintah di bawah ko­ordinasi Menko Perekonomian me­lalui Kementerian Perda­ga­ngan dan Bulog malah ber­ko­la­borasi me­lakukan impor beras di akhir tahun ini sebanyak 700 ribu ton.“Angka itu 72 persen dari izin impor yang diberikan Ke­men­te­rian Perdagangan sebanyak 1 juta ton,.Tidak berhenti sampai di situ,  langkah peme­rin­­tah melalui Menteri Keuangan memangkas anggaran pertanian pada Anggaran Pendapatan dan Be­lanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012 serta menolak Asu­ransi Petani dan Bank Pertanian.Belum lagi anggaran untuk per­tanian yang tidak lebih dari 4 persen atau Rp 53,9 triliun dari total belanja APBN 2012 sebesar Rp 1.435 triliun. “Terlihat jelas pemerintah sa­ngat tidak berpihak pada sektor pertanian. Mereka juga habis-habisan memasukkan berbagai impor pangan dan hor­tikultura,
Masyarakat sebe­narnya tidak memerlukan impor beras. Sebab menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), stok beras nasional sampai saat ini (2012 akhir) masih aman, dengan perkiraan produksi padi meningkat 4,87 persen menjadi 68,96 juta ton gabah ke­ring giling (GKG). Jika impor itu tetap dilakukan, ada kecurigaan per­mainan mafia yang mengun­tungkan pihak ter­ten­tu yang me­rugikan ma­sya­rakat.

Senin, 18 Februari 2013

Beras Cerdas karya Universitas Jember Jawa Timur

TEMPO.CO , Jember - Selama ini masyarakat mengetahui beras berasal dari tanaman padi. Tapi kali ini, ada beras cerdas. Beras ini terbuat dari singkong.


Oleh karenanya, untuk membuat 'beras cerdas' atau beras tiruan dalam skala nasional, Indonesia harus mampu mencapai program swasembada singkong. "Karena bahan baku utama beras cerdas itu ya dari singkong. Sementara produksi singkong kita masih minim, bahkan masih impor," ujar Apriyanto, Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Jawa Timur, Kamis 27 Desember 2012.

BKP Jawa Timur bersama Universitas Jember melakukan sosialisasi dan pembagian 'beras cerdas' untuk 490 warga miskin di Kecamatan Jelbuk dan Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember. Menurut Aprinyanto, program 'Pangan untuk kesejahteraan' itu akan segera dilakukan di 38 kabupten/kota lainnya di Jawa Timur. " Ini program bantunan pangan yang berbasis potensi dan budaya wilayah. Tujuannya untuk pengembangan sumberdaya pangan lokal dan perbaikan gizi masyarakat," katanya.

Selain menjadi salah satu lumbung padi nasional, kata Apriyanto, Jawa Timur sebenarnya juga kaya akan produksi sumber-sumber karbohidrat non-beras. Dia menyebutkan pada tahun 2010 saja, di Jawa Timur mampu memproduksi 5,587 juta ton jagung, 3,642 juta ton singkong, 253,9 ton ubi jalar dan 10,1 ton sorgum. "Masalahnya belum maksimal pengolahannya menjadi bahan pangan non beras dan meningaktkan ketahanan pangan," kata dia.

'Beras Cerdas' buatan tim ahli Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Univeritas Jember. Beras itu dibuat dari bahan dasar ketela pohon atau singkong dicampur bahan lain seperti jagung dan susu. "Sampai sekarang kendala utama ada pada bahan baku. Pemerintah harus serius menggenjot produksi singkong nasional," kata Prof. Dr. Achmad Subagio, penemu beras tiruan itu.

Subagio mengembangkan dan memproduksi tepung singkong (modified cassava flour/Mocaf) sejak tahun 2005 lalu di Kabupaten Trenggalek. Tepung mocaf itu yang diolah bersama bahan lain dijadikan 'beras cerdas', juga bahan makanan lainnya seperti mie dan aneka kue.

Saat ini, tim ahli FTP Unej bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Pusat (Kementrian Pertanian) dan BKP Jawa Timur, telah didirikan empat pabrik 'beras cerdas' di Kabupaten Jember, Ponorogo dan Blitar. Kapasitas produksi beras tiruan itu mencapi 2 ton per hari. "Tahun depan ada rencana membagun 12 pabrik lagi di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan dana APBN dan APBD,"kata Subagio.

Selama ini, bahan baku untuk produksi masih mengandalkan singkong dari Kabupetn Trenggalek, Ponorogo, Blitar dan Tulungagung. Sementara daerah lainnya seperti Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, kata dia, masih sedikit produksinya. "Padahal ada ribuan hektar lahan tidur dan lahan kritis yang belum dimanfaatkan untuk budidaya singkong," kata di

Minggu, 17 Februari 2013

Putaran Tawaf, Putaran Selaras Alam Semesta


Dalam Islam, ketika seseorang thawaf di sekitar Ka’bah, maka ia memulai dari Hajar Aswad, dan gerakannya harus berlawanan dengan arah jarum jam.  

Hal itu adalah penting mengingat segala sesuatu di alam semesta dari atom hingga galaksi itu bergerak berlawanan dengan arah jarum jam.
Elektron-elektron di dalam atom mengelilingi nukleus secara berlawanan dengan jarum jam.
  • Di dalam tubuh, sitoplasma mengelilingi nukleus suatu sel berlawanan dengan arah jarum jam.
  • Molekul-molekul protein-protein terbentuk dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam. 
  • Darah memulai gerakannya dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam. 
  • Di dalam kandungan para ibu, telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. 
  • Sperma ketika mencapai indung telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. 
  • Peredaran darah manusia mulai gerakan berlawanan dengan arah jarum jamnya. 
  • Perputaran bumi pada porosnya dan di sekeliling matahari secara berlawanan dengan arah jarum jam.
  • Perputaran matahari pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam. 
  • Matahari dengan semua sistimnya mengelilingi suatu titik tertentu di dalam galaksi berlawanan dengan arah jarum jam. 
  • Galaksi juga berputar pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam.
 
Putaran Tawaf kekiri

 BAGAIMANA DENGAN ADA PADA GAMBAR INI ?
 APA YANG TERJADI BILA PUTARANNYA DI BALIK?
 PUTARAN PADA LINTASAN LARI



ARAH JARUM ULTIMETER KETIKA
KE ARAH MANA JARUM  PENUNJUKKNYA 
BERGERAK BILA MENGANDUNG MASA?









Memijat wajah
Sebagian besar kita akan mengoleskannya dari bagian depan ke belakang. Sebagai contoh, di pipi kanan, Anda akan menggunakan tangan kanan, lalu memutarnya searah jarum jam. Dari bagian dekat dengan bibir ke arah telinga, jika Anda lihat arah putarannya, maka Anda berarti menarik kulit pipi ke bawah. Menurut tips dr Prihantini dari Erha Apothecary, Ia mengajarkan agar mencoba memijat wajah dengan arah yang berlawanan dengan gravitasi.....(para wanita tips yang cocok...hehehe) jangan salah putar lagi


Satu lagi para pengguna komputer perhatikan kearah mana ketika cursor dalam posisi proses/ loading ?


Lalu adakah bedanya rasa kopi seduh/teh manis yang diputar searah jarum jam dengan arah berlawanan ? silahkan di coba....